Rabu, 14 Mei 2014

Pendekatan Studi Islam

Pendekatan Studi Islam
A.  Pendekatan sejarah
Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan dalam studi terhadap islam sebagai objek, adalah pendekatan sejarah. Islam bukan hanya sebuah doktrin agama.Tetapi membumi dan hidup sepanjang masa bersamaan dengan perjalanan sejarah utamnya. Pendekatan sejarah di maksudkan  agar dapat diketahui bagaimana ajaran agama yang dibawa oleh nabi Muhammad tersebut dapat diketahui secara utuh bagaimana awal mula masyarakat menerima ajaran tersebut dan selanjutnya bagaimana agama itumewarnai pola pengikutnya, sampai pada bagiamana agama ini berinteraksi dengan berbagai umat manusia yang berlatar belakang berbagai etnis dan budaya. Karena sejarah menyangkut kejadian masa lalu dan meliputi berbagai aspek kehidupan, maka hal yang terpenting dalam melihat sejarah tidak cukup hanya melihat bagaimana luarnya tetapi yang terpenting justru sisi dalamnya.
Menurut ibnu khaldun , dilihat dari sisi dalamnya, sejarah merupakan suatu penalaran kritis dan usaha yang cermat untuk mencari kebenaran, suatu penjelasan yang cerdas tentang sebab-sebab da nasal-usul segala sesuatu, sesuatu pengetahuan yang mendalam tentang bagaimana dan mengapa peristiwa itu terjadi. Sehingga dengan demikian menurut Ibnu khaldun sejarah berakar pada filsafat dan dapat di pandang sebagai bagian dari satu filsafat.Sejarah juga mempunyai tujuan praktis yaitu menangkap isyarat-isyarat yang dapat di jadikan sebagai contoh moral dalam kejadian sejarah. Pendekatan sejarah sangat berguna bagi studi islam baik dalam rangka memahami teks Al-Qur’an maupun memahami hadits. Seorang ingin mempelajari Al-Qur’an dengan benar maka di haruskan mempelajari asbamana dan mengapa peristiwa itu terjadi.Sehingga dengan demikian menurut Ibnu khaldun sejarah berakar pada filsafat dan dapat di pandang sebagai bagian dari satu filsafat.Sejarah juga mempunyai tujuan praktis yaitu menangkap isyarat-isyarat yang dapat di jadikan sebagai contoh moral dalam kejadian sejarah. Pendekatan sejarah sangat berguna bagi studi islam baik dalam rangka memahami teks Al-Qur’an maupun memahami hadits. Seorang ingin mempelajari Al-Qur’an dengan benar maka di haruskan mempelajari asbamana dan mengapa peristiwa itu terjadi.Sehingga dengan demikian menurut Ibnu khaldun sejarah berakar pada filsafat dan dapat di pandang sebagai bagian dari satu filsafat.Sejarah juga mempunyai tujuan praktis yaitu menangkap isyarat-isyarat yang dapat di jadikan sebagai contoh moral dalam kejadian sejarah. Pendekatan sejarah sangat berguna bagi studi islam baik dalam rangka memahami teks Al-Qur’an maupun memahami hadits. Seorang ingin mempelajari Al-Qur’an dengan benar maka di haruskan mempelajari asbamana dan mengapa peristiwa itu terjadi.Sehingga dengan demikian menurut Ibnu khaldun sejarah berakar pada filsafat dan dapat di pandang sebagai bagian dari satu filsafat.Sejarah juga mempunyai tujuan praktis yaitu menangkap isyarat-isyarat yang dapat di jadikan sebagai contoh moral dalam kejadian sejarah. Pendekatan sejarah sangat berguna bagi studi islam baik dalam rangka memahami teks Al-Qur’an maupun memahami hadits. Seorang ingin mempelajari Al-Qur’an dengan benar maka di haruskan mempelajari asbabun-nuzul, sejarah yang melatarbelakangi turunya ayat-ayat Al-Qur’an.Demikian pula dalam memahami Al-Hadits diperlakukan keterangan yang mengantar belakangi dan situasi yang terkait dengan hadits tersebut.

B.  Pendekatan Filologi
Penelitian agama dengan menggunakan pendekatan filologi dapat dibagi dalam tiga pendekatan . Perlu ditekankan di sini bahwa ketiga pendekatan dimaksudkan tidak terpisah secara ekstrim , pendekatan –pendekatan bias over lapping, saling melengkapi, atau bahkan dalam sudut pandang tertentu sama. Ketiga pendekatan tersebut adalah metode tafsir, content analysis dan hermeneutika.[8]
1.      Metode Tafsir
Pendekatan filologi terhadap al-Quran adalah pendekatan atau metode tafsir.Metode tafsir merupakan metode tertua dalam pengkajian agama.Sesuai dengan namanya, tafsir berarti penjelasan, pemahaman dan perincian terhadap kitab suci dapat dipahami sebagaimana di kehendaki oleh Tuhan.[9] Berkaitan dengan penelitian agama, tujuan tafsir adalah menjelaskan,menerangkan,minyingkap kandungan kitab suci pesan yang terkandung  di dalamnya baaik berupa hukum,moral,spiritual,perintah maupun larangan dapat dipahami,dihayati dan diamalkan.

2.      Pendekatan Filologi terhadap As-Sunnah (Al-Hadits)
 Pendekatan, al-Haditspun telah banyak di teliti oleh para ahli, bahkan dapat dikatakan penelitian terhadap al-Hadits lebih banyak kemungkinannya dibandingkan penelitian terhadap al-Qur’an . Hal ini antara lain dilihat dari segi datangnya al-Quran dan al-Hadits berbeda. Kedatangan (wujud) atau turun (nuzul)-nya al-Qur’an diyakini secara mutawatir berasal dari Allah.
Dari sisi yang berbeda masih ada cara lain untuk memahami suatu hadist, yakni dengan mencermati perbedaan sosial, cultural serta corak intelektual. Yang berkembang saat itu dimekkah dan medinah.Sehingga dapat diketahui al-wurud-nya (sebab-sebab munculnya), sya’n al wurud (situasi dan latar belakang permunculan) suatu hadist, serta posisi Muhammad saat itu, apakah sebagai nabi, rosul, kepala negara, panglima perang, atau juga sebagi manusia biasa.
Beriku ini beberapa contoh tentang memahami makna hadist dalam berbagai dimensinya:
a)      Hadist yang mengandung ajaran universal yang bersifat local tetapi nilai pesan bersifat universal, contohnya perintah mencukur kumis serta merawat atau memanjangkan jenggot.
b)      Hadist yang mengandung ajaran bersifat temporal tetapi nilai pesannya eksternal dan universal, contohnya perintah memilih, mengutamakan pemimpin dari suku Quraisy(bangsa Arab).
Sesungguhnya masih banyak contoh-contoh serupa, seperti kepemimpinan wanita dan sebagainya, yang kandungan ajaran bersifat local, regional, temporal dan seterusnya.
3.      Pendekatan Filologi terhadap Teks, Naskah dan Kitab-kitab: Hermeneutika
Hermeneutika secara etimologis berasal dari kata kerja hermeneuin: menyampaikan berita. Pada mulanya hermeneutika ini hanya dipahami sebagai metode untuk menafsirkan teks-teks yang terdapat dalam karya sastra, sebagai metode penafsiran semakin meluas dan berkembang, baik dalam cara analisisnya maupun objek kajiannya.

C.  Pendekatan Pemikiran: Kalam, Filsafat Dan Tasawuf
1.    Pendekatan Pemikiran Kalam
Ilmu kalam adalah ilmu  yang membicarakan tentang wujud Tuhan (Allah), sifat-sifat yang mesti ada pada-Nya, sifat-sifat yang mestinya tidak ada pada-Nya serta sifat-sifat yang mungkin ada pada-Nya.
Selanjutnya A. Hanafi mengutip pendapat Ibnu Khaldun bahwa ilmu kalam adalah ilmu berisi alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan dalil-dalil pemikiran yang berisi bantahan terhadap orang - orang yang menyeleweng dari kepercayaan – kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunah. Kemudian Husain bin Muhammad al-Jassar mengatakan bahwa ilmu kallam ialah ilmu yang membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan keagamaan dengan bukti-bukti yang meyakinkan. Dimaksudkan dengan bukti-bukti yang meyakinkan tersebut adalah Qur’aniyah al Aqliyah.Berdasarkan batasan tersebut diatas bahwa ilmu kallam itu pada intiya adalah ilmu yang membahas masalah ketuhanan dengan menggunakan dasar naqly dan aqly.
Abuddin nata menjelaskan bahwa model penelitian kallam dapat dibagi jadi dua bagian.Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kallam menjadi satu disiplin ilmu dengan merujuk pada al-Quran.Dan hadist serta berbagai pendapat tentang kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi.Sedangkan penelitian ke dua sifatnya hanya mendeskripsikan tentang adanya kajian ilmu kalam.Dengan menggunakan bahan-bahan rujukan yang dihasilkan oleh peneliti model pertama.
Dari uraian diatas jelas bahwa pendekatan pemikiran kalam berangkat dari kepercayaan terhadap kebenaran dogma atau informasi al-Qur’an terutama tentang masalah ketuhanan dan kemudian menggunakan akal sebagai alat untuk membuktikan kebenaran informasi al-Qur’an tersebut dalam ungkapan lain dikenal dengan pendekatan tekstual dan rasional.
2.    Pendekatan Filsafat
Tujuan berfilsafat ialah menemukan kebenaran yang sebenarnya. Jika kebenaran yang sebenarnya dirumuskan secara sistematis maka ia adalah sistematika filsafat. Sistematika filsafat itu terbagi atas tiga cabang filsafat besar yakni teori pengetahuan,teori hakekat dan teori nilai. Filsafat pada intinya berupa menjelaskan inti, hakekat,hikmah,mengenai suatu yang mendasar, asas dan inti, di balik yang bersifat lahiriyah.
3.    Pendekatan Pemikiran Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu bidang studi islam yang memfokuskan perhatianya pada dimensi esoterik yakni pembersihan aspek rohani manusia sehingga dapat menimbulkan akhlak mulia. Melalui studi tasawuf ini, seorang dapat mengetahui tata caramelakukan pembersihan jiwa serta mengamalkan secara benar. Dari pengetahuan ini ia akan tampil sebagai seorang yang terampil dan pandai pada saat ini berinteraksi dengan orang lain atau pada saat melakukan aktifitas dunia yang menuntut kejujuran,keikhlasan serta tanggung jawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar