Rabu, 20 November 2013

Studi Islam

Studi Islam
A.  Pengertian Studi Islam
Sebelum membahas tentang studi islam, kita terlebih dahulu membahas pengertian Islam. Islam adalah agama yang diwahyukan kepada nabi muhammad saw untuk disampaikan kepada umat manusia. Pengertian studi islam secara etimologis merupakan terjemahan dari bahasa Arab dirasah Islamiyah. Dalam kajian Islam di barat studi islam disebut Islamic Studies. Dengan demikian Studi Islam adalah kajian tentang hal-hal yang berkaitan dengan keislaman.
Secara terminologis studi islam yaitu memahami dengan menganalisis secara mendalam hal-hal yang berkaitan dengan agama Islam, pokok-pokok ajaran Islam, sejarah Islam, maupun realitas peaksanaan nya dalam kehidupan[1].
Pengertian lainnya, Studi Islam adalah usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam seluk-beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran, sejarah maupun praktik-praktik pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, sepanjang sejarahnya[2].

B.  Tujuan Studi Islam
Muhaimin dalam bukunya mengemukakan bahwa arah dan tujuan Studi Islam dapat dirumuskan sebagai berikut [3]:
1.      Untuk mempelajari secara mendalam apa sebenarnya (hakikat) agama Islam itu, dan bagaimana posisi serta hubungan nya dengan agama-agama lain dalam kehidupan budaya manusia.
2.      Untuk mempelajari secara mendalam pokok-pokok isi ajaran agama Islam yang asli dan bagaimana penjabaran dan operasionalisasinya dalam pertumbuhan dan perkembangan budaya dan peradaban Islam sepanjang sejarahnya.
3.      Untuk mempelajari secara mendalam sumber dasar ajaran agama Islam yang tetap abadi  dan dinamis, dan bagaimana aktualisasinya sepanjang sejarah.
4.      Untuk mempelajari secara mendalam prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran agama Islam dan bagaimana realisasinya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.

C.  Aspek Yang Mendukung Studi Islam
1.    Aspek Kebutuhan Manusia Terhadap Agama[4].
Secara naluri, manusia mengakui kekuatan dalam kehidupan ini di luar dirinya. Dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, Ia mengeluh dan meminta pertolongan kepada sesuatu yang serba maha. Naluriah ini membuktikan bahwa manusia perlu beragama dan membutuhkan Sang Khaliknya.
Ada yang berpendapat bahwa benih agama adalah rasa takut kepada yang diyakini. Seperti yang ditulis oleh Yatimin bahwa pada masa primitif, kekuatan itu menimbulkan kepercayaan animisme dan dinamisme. Ia memerinci bentuk penghormatan itu berupa:
a.    Sesajian pada pohon-pohon besar, batu, gunung, sungai-sungai, laut, dan benda alam lainnya.
b.    Pantangan (hal yang tabu), yaitu perbuatan-perbuatan ucapan-ucapan yang dianggap dapat mengundang murka (kemarahan) kepada kekuatan itu.
c.    Menjaga dan menghormati kemurkaan yang ditimbulkan akibat ulah manusia. Misalnya upacara persembahan, kekuatan, dan mengorbankan sesuatu yang dianggap berharga.
2.    Aspek Kondisi Manusia
Kondisi manusia terdiri dari beberapa unsur, yaitu unsur jasmani dan unsur rohani. Untuk menumbuhkan dan mengembangkan kedua unsur tersebut harus mendapat perhatian khusus yang seimbang. Unsur jasmani membutuhkan pemenuhan yang bersifat fisik jasmaniah. Unsur rohani membutuhkan pemenuhan yang bersifat psikis (mental) rohaniah.

3.    Aspek Status Manusia
Status manusia adalah sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Jika dibanding dengan makhluk lain, Allah menciptakan manusia lengkap dengan berbagai kesempurnaan. Yaitu kesempurnaan akal dan pikiran, kemuliaan, dan berbagai kelebihan lainnya. Dalam segi rohaniah manusia memiliki aspek rohaniah yang kompleks.

4.    Aspek Kepribadian
Dilihat dari struktur kepribadian manusia maka di situ pulalah dapat dilihat kebutuhan manusia terhadap agama.

5.    Aspek Fitrah Manusia
Kenyataan manusia memiliki fitrah keagamaan dijelaskan dalam ajaran islam bahwa agama adalah kebutuhan fitri manusia. Fitrah keagamaan yang berada dalam diri manusia inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Oleh karenanya ketika datang wahyu Tuhan yang menyeru manusia agar beragama, maka seruan itu memang amat sejalan dengan fitrah manusia itu.

6.    Aspek Tantangan Manusia
Manusia dalam kehidupannya senantiasa menghadapi berbagai tantangan, baik internal maupun eksternal. Tantangan internal dapat berupa dorongan hawa nafsu dan bisikan setan. Sedangkan tantangan eksternal dapat berupa rekayasa dan upaya-upaya  yang dilakukan oleh manusia yang secara sengaja memalingkan manusia dari Tuhan. Dengan demikian perlunya manusia mempelajari studi islam untuk memperkuat iman.


DAFTAR PUSTAKA
Imam dan Tabroni,Metodelogi Penelitian Sosial Agama, (Bandung: Remaja Rosda Karya,2001)
Muhaimin,yusuf muzakkir dkk,kawasan dan wawasan studi islam,(Jakarta;Prenada Media,2005)
Nadith Syarif al-Umari, alIjtihad fi al-Islam: Ushuluhu, Ahkamuhu, Afaquhu, (Beirut: Muassasah Risalah, 1981)
Prof.DR.Rosihon Anwar, M.Ag , dkk, Pengantar Studi Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011)
Prof.Dr.Rosihon Anwar,M.Ag , dkk, Pengantar Studi Islam,(Bandung: CV Pustaka Setia, 2009)
Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN PRESS, 2011)



[1] Tim Penyusun MKD IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, (Surabaya: IAIN PRESS, 2011), 8
[2] Prof.DR.Rosihon Anwar, M.Ag , dkk, Pengantar Studi Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 25
[3]Prof.Dr.Rosihon Anwar,M.Ag , dkk, Pengantar Studi Islam,(Bandung:Pustaka Setia, 2009), 34-37
[4] http://heroshela.wordpress.com/studi-islam/
[5] Nadith Syarif al-Umari, alIjtihad fi al-Islam: Ushuluhu, Ahkamuhu, Afaquhu, (Beirut: Muassasah Risalah, 1981), hlm 18.
[6] Tim penysun MKD IAIN Sunan Ampel, Pengantar Studi Islam, IAIN SUNAN AMPEL, SURABAYA, 2011, hlm. 99-
102
[7] Muhaimin,yusuf muzakkir dkk,kawasan dan wawasan studi islam,(Jakarta;Prenada Media,2005),337 - 339
[8] Imam suprayoga dan Tabroni,Metodelogi Penelitian Sosial Agama, (Bandung: Remaja Rosda Karya,2001), hal. 69

Tidak ada komentar:

Posting Komentar